Rapat Tindak Lanjut Perjanjian Kerja Sama Kolaborasi Strategis Pusat Riset Agroindustri dan IPB
Rapat Tindak Lanjut Perjanjian Kerja Sama Kolaborasi Strategis Pusat Riset Agroindustri dan IPB
Pusat Riset Agroindustri, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) menggelar rapat tindak lanjut Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada Kamis, 20 Februari 2025. Pertemuan ini bertempat di Ruang Rapat Departemen TIN, Fateta, IPB, dengan agenda utama pembahasan Kerangka Acuan Kerja (KAK) serta strategi implementasi berbagai program riset dan inovasi agroindustri.
Dalam rapat yang dipimpin oleh Prof. Ono Suparno (Kepala Departemen TIN Fateta), dihadiri Kepala Pusat Riset Agroindustri Taufik Hidayat, S.Pi., M.Si beserta Ketua Kelompok Riset dan Periset Pusat Riset Agroindustri, berbagai topik strategis dibahas termasuk pendekatan berbasis komoditas dalam riset agroindustri untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing industri pertanian, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem rantai pasok dan evaluasi program-program nasional, peluang pendanaan riset dan pendidikan, termasuk program double degree dengan University of Adelaide serta potensi beasiswa LPDP untuk mahasiswa magister dan doctoral, penguatan kerja sama dengan industri, khususnya dalam implementasi skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dikemas dalam program magang industry dan pelaksanaan riset untuk menghasilkan inovasi bidang agroindustri dengan memanfaatkan berbagai skema pendanaan riset yang tersedia.
Sebagai langkah nyata, beberapa program yang segera diimplementasikan antara lain penyusunan proposal untuk berbagai skema pendanaan, persiapan kolaborasi dalam penyelenggaraan seminar dan webinar agroindustri, baik nasional maupun internasional, serta peningkatan SDM riset unggul melalui berbagai program yang ada di TIN maupun di BRIN.
Pusat Riset Agroindustri BRIN berkomitmen untuk terus membangun ekosistem riset yang kuat dan berdampak bagi masyarakat serta industri pertanian nasional. Ke depan, berbagai inisiatif riset dan inovasi akan terus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih produktif dan berorientasi pada kebutuhan industri.